News Detail



Yuk! Contek Budaya dan Pola Pikir Dibalik Kesuksesan Google

Dari seluruh 7 miliar manusia yang menduduki bumi ini; pasti semua mengetahui apa itu Google. Terlepas dari latar belakang suku, budaya, ekonomi, sosial, hingga pandangan politik yang dianut, penggunaan produk-produk Google telah menjadi suatu fenomena yang sangat populer. Kepopuleran Google sebagai mesin pencari di jagad internet divalidasi pada Juni 2006 saat Oxford Dictionary menjadikan ‘Google’ sebagai kata kerja baru. Well, I don’t know about you, but I wonder how does it feel like to work at Google? Liat aja foto-foto dari kantor pusat Google, Googleplex.

Sepertinya menyenangkan banget, ya? Taman kanak-kanak dekat rumah saya aja kalah menyenangkan. Saya tidak menyangka kantor yang semenyenangkan ini dapat menghasilkan produk-produk semacam Google Search, Google Chrome, Android, dan Google Translate; yang awalnya hanya dirintis dari sebuah garasi di rumah kecil. Sebagai mahasiswa tua yang menetap di Fakultas Ilmu Budaya, saya jadi penasaran, budaya kerja dan mindset seperti apa sih yang sebenarnya Google terapkan dan harus dimiliki (calon) karyawan-karyawannya untuk dapat membangun kerajaan startup nomor satu di dunia. Simak aja lebih lanjut artikel ini.

 

Objectives and Key Results

Setiap perusahaan pasti memiliki tujuan yang perlu dicapai oleh karyawan yang bekerja di perusahaan tersebut. Google menerapkan apa yang disebut dengan OKRs pada karyawannya yang berbeda dengan apa yang diterapkan oleh perusahaan lain. But what is OKRs, anyway?

OKRs merupakan singkatan dari Objectives and Key Results. Penerapan OKRs dapat membantu seorang karyawan untuk meningkatkan kinerjanya. Kok bisa, sih?

Pertama, karyawan-karyawan Google diharuskan untuk membuat sebuah tujuan yang spesifik dan jelas, serta memasukkan hasil yang jelas dari objektif tersebut. Dari objective ini Google juga menantang para karyawannya untuk keluar dari zona nyaman melalui penentuan tujuan yang ambisius; bahkan sukar untuk dicapai.

Terus bagaimana bila gagal? Hal tersebut bisa saja terjadi. Akan tetapi kegagalan bukanlah hal yang perlu dihindari, melainkan dapat menjadi sebuah batu loncatan dalam mengevaluasi kekurangan untuk kedepannya meningkatkan efisiensi dan efektivitas kerja. Sebaliknya, kesuksesan beruntun seorang karyawan atas pencapaian tujuan-tujuannya bisa dianggap sebagai ‘aib’ karena objective yang telah ditentukan itu dianggap kurang menantang bagi karyawan tersebut.

 

Creating MVP

Zaman sekarang kalau kita berjalan keliling tempat perbelanjaan, entah itu pasar tradisional atau swalayan besar, pasti ada saja produk yang terkadang kita pikir tidak ada faedahnya sama sekali untuk kamu dan/atau kemaslahatan bersama.

Mungkin saja benda-benda tersebut memang tidak ada manfaatnya untuk orang banyak atau memang tidak diperuntukkan untuk kamu. Gimanapun juga kesinambungan antara kebutuhan pasar dan kreativitas untuk menciptakan kebutuhan tersebut sangatlah diperlukan.

Google menggunakan apa yang disebut dengan MVP sebagai instrumen untuk memahami kebutuhan pasar. MVP sendiri merupakan singkatan dari Minimum Viable Product, jadi bukan penghargaan Most Valuable Player yang biasa ada di NBA yaaa

Ide-ide breakthrough yang super kreatif para karyawan Google biasanya diuji lewat sebuah prototype yang terbuat dari maket/mockup dan akan dikritisi oleh pengguna-pengguna random; yang nantinya dari feedback prototype ini dapat dihasilkan sebuah produk yang bisa dilepas ke early adopters sebagai pengisi pangsa ‘pasar kecil’ untuk perkembangan lebih lanjut dan persiapan untuk melepas produk di pasar yang lebih besar.

Hal tersebut sangat membantu Google dalam memahami ekspektasi konsumen, menganalisis pasar untuk strategi kedepannya, serta melatih karyawan untuk bertanggung jawab atas ide-ide kreatif yang telah dihasilkannya.

 

Immerse yourself in a high quality ecosystem

Google bergerak di bidang teknologi yang menuntut kreativitas tinggi; sehingga ide-ide yang sangat menarik dan out of the box sangat diidamkan di perusahaan tersebut.

Hal itu telah menjadikan Googleplex yang kita lihat di internet menjadi tempat yang sangat menyenangkan guna merangsang kreativitas karyawannya. Tapi tidak seperti itu juga, lingkungan kerja yang sedemikian asyik itu ternyata tidak serta merta membuat karyawan menjadi pemalas seperti yang ada di benak banyak orang. Justru, setiap karyawan di Google giat membangun suatu wadah teamworking yang unik dengan me-mentoring satu sama lain bila ada yang mengalami kesulitan.

Kenapa hal tersebut unik? Karena banyak dari para karyawan di perusahaan lain akan “membantu” satu sama lain seperti guru yang menggurui muridnya, atau ada juga yang merasa karena teman maka seluruh kinerja kurang maksimal bisa mudah di tolerir. ‘Teamworking’ seperti itu hanya akan membentuk seorang karyawan yang kurang paham akan kelebihan dan kekuarangan dalam kinerjanya; sedangkan mentoring akan membantu seorang karyawan untuk mengoptimalkan dan mengaktualisasi, tidak hanya kinerjanya, tapi juga dirinya sendiri.

 

You don’t have to be an expert in everything. But make sure you’re damn excellent in one.

Pasti kamu mengira bahwa perusahaan sebesar Google akan menuntut karyawan dengan pekerjaan-pekerjaan yang banyak, sulit, dan membutuhkan skill yang tinggi di semua bidang lalu semua harus dapat menyelesaikan pekerjaan itu dalam waktu singkat, padahal tidak sama sekali.

Setiap karyawan di Google berdedikasi terhadap passion-nya masing-masing sehingga setiap orang akan memiliki spesifikasi keahlian yang unik di setiap pekerjaan yang digelutinya. Ada sebutan terkenal “T-Shape Skill Set”, dimana kamu dipanggil untuk dapat mengetahui semua bidang sambil memiliki fokus untuk menjadi expert di salah satu bidang. Artinya, kamu cukup untuk excel di satu bidang aja.

Namun bagaimana bila ada pekerjaan yang memerlukan lebih dari satu skill dalam penyelesaiannya? Tidak perlu khawatir, budaya teamworking di Google yang telah dijelaskan sebelumnya memudahkan satu karyawan dan karyawan lainnya untuk bekerjasama atau bahkan saling belajar antara satu dengan yang lainnya.

***

Jadi begitulah budaya kerja dan cara berpikir yang diterapkan di Google. Sangat seru, asyik, dan menyenangkan gak sih? Namun kreativitas yang ekstra, kesabaran yang handal, serta kerja keras yang tiada tara juga masih sangat dibutuhkan untuk masuk dan bertahan di perusahaan sebesar Google. Do you have what it takes?

P.S.: Kamu tidak harus bekerja di Google untuk dapat menjalankan poin-poin di atas loh! Empat poin itu bisa banget diaplikasikan ke lingkungan kerjamu atau bahkan kehidupan personal kamu.

Google aja bisa menjadi sebesar hari ini karena hal-hal tersebut, kenapa kamu tidak?

 

Penulis: Muhammad Kautsar

Editor: Boris Torentika & Sebastian Alex Dharmawangsa