News



Gerakan Nasional 1.000 Startup Digital Hadir Melalui Innovative Academy

Setelah berjalan selama lebih dari satu tahun, Gerakan Nasional 1.000 Startup Digital kini sudah menjaring lebih dari 33.000 pendaftar, dengan 127 startup yang sudah mengikuti tahapan inkubasi di Yogyakarta, gerakan ini hadir melalui Innovative Academy, sebuah program inkubasi yang dikembangkan UGM dan diarahkan untuk membentuk startup digital dengan karakter Indonesia.

“UGM sebagai institusi akademik ingin selalu berkontribusi dalam gerakan ini dengan menjadi mitra penyelenggara kegiatan di DIY. Sinergi UGM dalam kegiatan ini diharapkan dapat menumbuhkan semangat socio-entrepreneurial dan mendorong sivitas akademika UGM untuk menghasilkan berbagai solusi digital atas permasalahan yang terjadi di masyarakat,” tutur Rektor UGM, Prof. Ir. Panut Mulyono, M.Eng., D.Eng., dalam acara Ignition Gerakan Nasional 1000 Startup Digital  Gelombang Tiga, Sabtu (5/5) di gedung Magister Manajemen UGM.

UGM sendiri telah sejak awal menjadi salah satu pendukung gerakan nasional ini. Memasuki penyelenggaraan gelombang ketiga pada tahun ini, Panut mengutarakan bahwa UGM akan terus mendukung gerakan ini, dengan harapan akan muncul semakin banyak startup yang inovatif dan produktif.

“Keterlibatan UGM sejak peluncuran sampai dengan pelaksanaan gerakan nasional angkatan ketiga ini, diharapkan dapat menopang pertumbuhan startup digital di Indonesia dengan mendorong para mahasiswa, dosen, alumni dan masyarakat luas yang sejalan dengan spirit UGM agar menghasilkan karya inovatif dan berani memulai langkah maju sebagai pebisnis pemula,” imbuhnya.

Innovative Academy merupakan sebuah wadah yang dikembangkan oleh Direktorat Pengembangan Usaha dan Inkubasi (PUI) UGM bekerja sama dengan inkubator bisnis berbasis teknologi. Innovative Academy diselenggarakan untuk mendorong mahasiswa membangun startup teknologi bermanfaat yang menjadi solusi dari berbagai problem di Indonesia.

“Kami mendorong mahasiswa dari berbagai jurusan membuat sesuatu yang bermanfaat untuk masyarakat, jadi ada keberpihakan pada masyarakat. Lalu kami kerja sama dengan industri untuk mewujudkan ide yang dimiliki para mahasiswa,” jelas Direktur Pengembangan Usaha dan Inkubasi UGM, Dr. Hargo Utomo, M.B.A.

Gerakan Nasional 1.000 Startup Digital hadir di 10 kota di Indonesia, yaitu Jakarta, Bandung, Surabaya, DIY, Semarang, Malang, Medan, Bali, Makassar, dan Pontianak. Dalam gelombang ini sektor yang menjadi prioritas meliputi agrikultur, pendidikan, kesehatan, pariwisata, logistik, dan energi.

Acara Ignition yang digelar merupakan tahapan pertama dari gerakan ini, yang bertujuan untuk memaparkan permasalahan utama yang ada di Indonesia oleh para pelaku industri tersebut. Kemudian, dari peserta ignitiontersebut akan dijaring peserta yang layak untuk melanjutkan ke tahap kedua, yaitu networking, dan mereka diarahkan untuk saling memperkuat hubungan dengan membentuk sebuah tim serta diberikan pengetahuan dasar sebelum memasuki tahapan yang ketiga, yaitu workshop.

Pada sesi workshop, peserta diberikan pembekalan keahlian yang mereka butuhkan dalam membuat sebuah startup digital, mulai dari validasi ide, validasi market, serta model bisnis. Berbekal ilmu dari workshop tersebut, 1.000 peserta akan melanjutkan ke tahap yang keempat yaitu hacksprint untuk menghasilkan prototype produk dari ide solusi aplikasi. Setelah itu, 500 peserta akan memasuki tahap kelima yaitu bootcamp, yang merupakan sesi mentoring mendalam untuk menyiapkan strategi peluncuran produk. Terakhir, 200 peserta terpilih akan diinkubasi selama kurang lebih 3 bulan sehingga dalam 5 tahun akan tercipta 1.000 startup digital. (Humas UGM/Gloria)

Mantan CEO Schlumberger Beri Wawasan Bisnis Pada Calon Startup UGM

Mantan CEO Schlumberger Indonesia dan pendiri Biru Peduli Foundation, Ir. Ahmad Yuniarto, memberikan wejangan pada peserta Innovative Academy Batch 5 pada hari Sabtu (7/4) di Gedung Entrepreneurship Development Service (EDS) UGM, Asem Kranji, Sekip K7, Kampus UGM. Peserta Innovative Academy (IA) merupakan hasil seleksi dari program kewirausahaan dan inkubasi tingkat kampus UGM dan dilatih untuk merintis usaha startup.

Alumnus Teknik Elektro UGM tahun 1986 ini mengatakan ada empat fase yang harus dilalui sebuah tim dalam merintis sebuah bisnis startup. Keempat fase tersebut adalah forming, storming, norming dan performing. Ia menyebutkan keempat fase itu harus dilalui dengan baik, apabila tidak bisa maka sebuah usaha bisnis akan bubar dengan sendirinya. “Jika kita membentuk tim ada fase dan dimanika yang terjadi, semuanya harus dilalui,” katanya.

Saat membentuk tim, proses pengumpulan orang lain disebut tahap forming. Setelah tim terbentuk dan mulai bekerja biasanya akan melalui fase storming yakni munculnya konflik. “Di fase ini yang terjadi adalah konflik atau friksi,” paparnya.

Konflik terjadi karena adanya dinamika dalam sebuah tim terkait dari peran masing-masing anggota tim dan tujuan bersama yang akan dicapai. Apabila dalam situasi ini antar anggota tim tidak solid bahkan tidak bisa menyelesaikan konflik tersebut maka akan sulit melalui fase selanjutnya.

Apabila berhasil sebuah tim bisa memasuki fase selanjutnya yakni norming. “Fase ini didapat apabila anggota tim bisa mengesampingkan masalah dan mulai membuat kedekatan, membuat aturan sop dan proses,” paparnya.

Setelah fase norming dilalui, sebuan tim akan mulai menghasilkan prestasi kerja atau performing. Keberhasilan mengelola dinamika dalam tim, menurut Yuniarto, maka sebuah sukses dalam fase performing. “Apabila bisa membawa masuk timnya ke tahap norming, baru bisa naik ke level performing,” katanya

Kepada puluhan peserta IA Batch 5, ia menegaskan agar setiap anggota tim memiliki niat dan keyakinan untuk betul-betul terjun dalam bisnis start up. Keikutsertaan peserta inovative academy tidak cukup hanya untuk belajar dan mencari pengalaman. Menurutnya, hal yang paling sulit dalam bisnis bukanlah urusan teknis, namun pada kemampuan membangun relasi, komunikasi serta bisnis proses. “Jika niatnya datang ke sini hanya belajar dan cari pengalaman maka tidak ada keberhasilan Anda dalam membangun startup,” tegasnya.

Seperti diketahui, pada Inovative Academy tahap ke-5 ini diikuti oleh 10 tim peserta yang tengah mulai merintis dan mambangun bisnis startup, yakni kalikesia, kreasibilitas, wonderbee, rekanbisnis, wozmi, caltyfarm, carenusa, edutania, datector, dan eksporia. Para peserta IA 5 ini sudah mengikuti proses pelatihan dan mentoring selama 10 minggu dari 12 minggu. Para peserta nantinya akan dipilih sebagai kelompok startup yang potensial untuk mengikuti proses pengembangan bisnis selanjutnya dari pihak UGM dan investor. (Humas UGM/Gusti Grehenson)

Pelaku Bisnis Startup Diminta Tidak Mudah Putus Asa

Founder dan CEO Cicil, Edward Widjonarko, memberikan mengisi sesi pada Innovative Academy UGM batch 5 tentang strategi keuangan dan penggalangan dana bagi perusahaan startup, Jumat (20/4), di EDS Building Universitas Gadjah Mada. Seperti diketahui, Cicil (cicil.co.id) adalah perusahaan teknologi finansial berjiwa sosial yang memberikan akses kemudahan pembiayaan bagi mahasiswa tanpa jaminan untuk membeli barang.

Edward Widjonarko mengatakan ada tiga sumber dana yang bisa dimiliki oleh perusahaan startup, yakni pinjaman, ekuitas, dan laba keuntungan. Namun begitu, untuk mendapatkan dana pinjaman bagi perusahaan start up tidak mudah karena belum dipandang pihak perbankan memiliki kemampuan untuk membayar sehingga salah satunya adalah lewat ekuitas dan pendapatan langsung dari hasil bisnis sendiri. “Equity sangat cocok untuk keuangan jangka panjang karena tidak perlu membayar bunga seperti jika halnya hutang ke bank. Yang paling penting adalah bagaimana cara menaikkan nilai company bukan hanya mencari profit,” kata Edward.

Namun, bagaimana apabila perusahaan masih tetap saja minim profit? Menanggapi hal itu Edward menyarankan agar para pendiri perusahaan jangan berputus asa lalu meninggalkan bisnisnya. “Jangan langsung tinggalkan bisnisnya, tapi visinya bagaimana cara pengaturan agar kegiatan usaha yang dilakukan bisa menghasilkan profit yang positif di masa mendatang,” katanya

Menurutnya, bagi mereka yang berkecimpung dalam usaha binis digital sebaiknya tidak banyak membuang waktu dengan membuat berbagai perencanaan, namun lebih banyak melakukan aksi dengan membuat produk inovasi berdasarkan masukan dari pasar. “Dengarkan konsumen Anda, konsumen bisa menjadikan kita bisa membuat perfect product,” katanya.

Menggali banyak ide dapat dilakukan dengan banyak berinteraksi dengan konsumen. Bahkan, masukan dari konsumen bisa memecahkan berbagai persoalan lama di perusahaan, mampu mengubah regulasi perusahaan, mengubah perilaku serta bisa mengganti piranti teknologi yang telah usang. (Humas UGM/Gusti Grehenson)

CEO Legal Clinic Bekali Mahasiswa Startup UGM

Menjadi wirausahawan di bidang bisnis startup berbeda dengan bisnis konvensional perseorangan. Bisnis startup tidak selalu berkaitan dengan uang karena uang bukanlah segalanya, namun diperlukan strategi jitu untuk menumbuhkankembangkan perusahaan lewat aplikasi kreatif yang dihasilkan. Hal itu dikemukakan oleh CEO Startup Legal Clinic, Ivan Lalamentik, yang menyampaikan mentoring tentang Startup Legal and Intellectual Property kepada peserta program inkubasi Innovative Academy Batch 5, Sabtu (28/4), di EDS Building, Asem Kranji, Sekip K7, Kampus UGM.

Ivan menuturkan untuk menjadikan perusahaan rintisan bisa bersaing juga diperkukan bakat orang di dalamnya dalam bidang teknik rekayasa serta kemampuan dalam menjalankan wirausaha. “Tahapan menjadi perusahaan startup dimulai dengan formasi para pendiri awal, modal bersama, konsep pendanan hingga bentuk bisnis yang dijalankan,” katanya.

Aspek hukum dan hak kekayaan intelektual dalam pendirian perusahaan startup perlu disiapkan oleh para pegiat bisnis digital ini. “Aspek legalitas pendirian perusahaan menjadi bagian penting,” katanya.

Tidak cukup dari aspek legalitas, imbuhnya, keberhasilan perusahaan startup bisa bertahan dan bersaing bergantung kemampuan para pendiri perusahaan untuk selalu berpikir dinamis, memiliki antusiasme pada konsep bisnis yang dijalankan, serta merespons perubahan dan perkembangan di masa depan dengan menyesuaikan aplikasi teknologi dengan bisnis yang sudah dipilih.

Ia pun memberikan beberapa tips untuk mendapat modal ventura atau pembiayaan dari pihak lain. Menurutnya, sebuah perusahaan rintisan harus mampu menggaet banyak orang dengan aplikasi yang dibuat dan kemampuan menjangkau semua orang. “Yang jadi tantangan adalah bukan hanya aplikasi yang dapat membantu semua orang, tapi bagaimana cara orang-orang tersebut dapat menghasilkan penghasilan dari aplikasi kita,” katanya. (Humas UGM/Gusti Grehenson)

Yuk! Contek Budaya dan Pola Pikir Dibalik Kesuksesan Google

Dari seluruh 7 miliar manusia yang menduduki bumi ini; pasti semua mengetahui apa itu Google. Terlepas dari latar belakang suku, budaya, ekonomi, sosial, hingga pandangan politik yang dianut, penggunaan produk-produk Google telah menjadi suatu fenomena yang sangat populer. Kepopuleran Google sebagai mesin pencari di jagad internet divalidasi pada Juni 2006 saat Oxford Dictionary menjadikan ‘Google’ sebagai kata kerja baru. Well, I don’t know about you, but I wonder how does it feel like to work at Google? Liat aja foto-foto dari kantor pusat Google, Googleplex.

Sepertinya menyenangkan banget, ya? Taman kanak-kanak dekat rumah saya aja kalah menyenangkan. Saya tidak menyangka kantor yang semenyenangkan ini dapat menghasilkan produk-produk semacam Google Search, Google Chrome, Android, dan Google Translate; yang awalnya hanya dirintis dari sebuah garasi di rumah kecil. Sebagai mahasiswa tua yang menetap di Fakultas Ilmu Budaya, saya jadi penasaran, budaya kerja dan mindset seperti apa sih yang sebenarnya Google terapkan dan harus dimiliki (calon) karyawan-karyawannya untuk dapat membangun kerajaan startup nomor satu di dunia. Simak aja lebih lanjut artikel ini.

 

Objectives and Key Results

Setiap perusahaan pasti memiliki tujuan yang perlu dicapai oleh karyawan yang bekerja di perusahaan tersebut. Google menerapkan apa yang disebut dengan OKRs pada karyawannya yang berbeda dengan apa yang diterapkan oleh perusahaan lain. But what is OKRs, anyway?

OKRs merupakan singkatan dari Objectives and Key Results. Penerapan OKRs dapat membantu seorang karyawan untuk meningkatkan kinerjanya. Kok bisa, sih?

Pertama, karyawan-karyawan Google diharuskan untuk membuat sebuah tujuan yang spesifik dan jelas, serta memasukkan hasil yang jelas dari objektif tersebut. Dari objective ini Google juga menantang para karyawannya untuk keluar dari zona nyaman melalui penentuan tujuan yang ambisius; bahkan sukar untuk dicapai.

Terus bagaimana bila gagal? Hal tersebut bisa saja terjadi. Akan tetapi kegagalan bukanlah hal yang perlu dihindari, melainkan dapat menjadi sebuah batu loncatan dalam mengevaluasi kekurangan untuk kedepannya meningkatkan efisiensi dan efektivitas kerja. Sebaliknya, kesuksesan beruntun seorang karyawan atas pencapaian tujuan-tujuannya bisa dianggap sebagai ‘aib’ karena objective yang telah ditentukan itu dianggap kurang menantang bagi karyawan tersebut.

 

Creating MVP

Zaman sekarang kalau kita berjalan keliling tempat perbelanjaan, entah itu pasar tradisional atau swalayan besar, pasti ada saja produk yang terkadang kita pikir tidak ada faedahnya sama sekali untuk kamu dan/atau kemaslahatan bersama.

Mungkin saja benda-benda tersebut memang tidak ada manfaatnya untuk orang banyak atau memang tidak diperuntukkan untuk kamu. Gimanapun juga kesinambungan antara kebutuhan pasar dan kreativitas untuk menciptakan kebutuhan tersebut sangatlah diperlukan.

Google menggunakan apa yang disebut dengan MVP sebagai instrumen untuk memahami kebutuhan pasar. MVP sendiri merupakan singkatan dari Minimum Viable Product, jadi bukan penghargaan Most Valuable Player yang biasa ada di NBA yaaa

Ide-ide breakthrough yang super kreatif para karyawan Google biasanya diuji lewat sebuah prototype yang terbuat dari maket/mockup dan akan dikritisi oleh pengguna-pengguna random; yang nantinya dari feedback prototype ini dapat dihasilkan sebuah produk yang bisa dilepas ke early adopters sebagai pengisi pangsa ‘pasar kecil’ untuk perkembangan lebih lanjut dan persiapan untuk melepas produk di pasar yang lebih besar.

Hal tersebut sangat membantu Google dalam memahami ekspektasi konsumen, menganalisis pasar untuk strategi kedepannya, serta melatih karyawan untuk bertanggung jawab atas ide-ide kreatif yang telah dihasilkannya.

 

Immerse yourself in a high quality ecosystem

Google bergerak di bidang teknologi yang menuntut kreativitas tinggi; sehingga ide-ide yang sangat menarik dan out of the box sangat diidamkan di perusahaan tersebut.

Hal itu telah menjadikan Googleplex yang kita lihat di internet menjadi tempat yang sangat menyenangkan guna merangsang kreativitas karyawannya. Tapi tidak seperti itu juga, lingkungan kerja yang sedemikian asyik itu ternyata tidak serta merta membuat karyawan menjadi pemalas seperti yang ada di benak banyak orang. Justru, setiap karyawan di Google giat membangun suatu wadah teamworking yang unik dengan me-mentoring satu sama lain bila ada yang mengalami kesulitan.

Kenapa hal tersebut unik? Karena banyak dari para karyawan di perusahaan lain akan “membantu” satu sama lain seperti guru yang menggurui muridnya, atau ada juga yang merasa karena teman maka seluruh kinerja kurang maksimal bisa mudah di tolerir. ‘Teamworking’ seperti itu hanya akan membentuk seorang karyawan yang kurang paham akan kelebihan dan kekuarangan dalam kinerjanya; sedangkan mentoring akan membantu seorang karyawan untuk mengoptimalkan dan mengaktualisasi, tidak hanya kinerjanya, tapi juga dirinya sendiri.

 

You don’t have to be an expert in everything. But make sure you’re damn excellent in one.

Pasti kamu mengira bahwa perusahaan sebesar Google akan menuntut karyawan dengan pekerjaan-pekerjaan yang banyak, sulit, dan membutuhkan skill yang tinggi di semua bidang lalu semua harus dapat menyelesaikan pekerjaan itu dalam waktu singkat, padahal tidak sama sekali.

Setiap karyawan di Google berdedikasi terhadap passion-nya masing-masing sehingga setiap orang akan memiliki spesifikasi keahlian yang unik di setiap pekerjaan yang digelutinya. Ada sebutan terkenal “T-Shape Skill Set”, dimana kamu dipanggil untuk dapat mengetahui semua bidang sambil memiliki fokus untuk menjadi expert di salah satu bidang. Artinya, kamu cukup untuk excel di satu bidang aja.

Namun bagaimana bila ada pekerjaan yang memerlukan lebih dari satu skill dalam penyelesaiannya? Tidak perlu khawatir, budaya teamworking di Google yang telah dijelaskan sebelumnya memudahkan satu karyawan dan karyawan lainnya untuk bekerjasama atau bahkan saling belajar antara satu dengan yang lainnya.

***

Jadi begitulah budaya kerja dan cara berpikir yang diterapkan di Google. Sangat seru, asyik, dan menyenangkan gak sih? Namun kreativitas yang ekstra, kesabaran yang handal, serta kerja keras yang tiada tara juga masih sangat dibutuhkan untuk masuk dan bertahan di perusahaan sebesar Google. Do you have what it takes?

P.S.: Kamu tidak harus bekerja di Google untuk dapat menjalankan poin-poin di atas loh! Empat poin itu bisa banget diaplikasikan ke lingkungan kerjamu atau bahkan kehidupan personal kamu.

Google aja bisa menjadi sebesar hari ini karena hal-hal tersebut, kenapa kamu tidak?

 

Penulis: Muhammad Kautsar

Editor: Boris Torentika & Sebastian Alex Dharmawangsa

Alasan-alasan Surgawi Kenapa Kamu Harus Kerja di Perusahaan Startup

Bisa dikatakan dewasa ini, mencari pekerjaan bukanlah hal yang sulit lagi. Mendapatkan pekerjaan memang terbilang mudah. Yang sulit adalah mendapatkan pekerjaan yang cocok untuk kita. Nah, saat ini di Indonesia banyak sekali bermunculan perusahaan-perusahaan startup. Startup identik dengan lingkungan kerjanya yang santai, asik, dan menyenangkan. Mungkin bekerja di startup bisa menjadi pilihan yang patut dipertimbangkan oleh para pencari kerja.

Memang kenapa sih? Apa sih asiknya perusahaan startup? Yuk, langsung aja disimak!

1. Lingkungan Kerja yang Menyenangkan

Banyak perusahaan startup yang dibuat dengan lingkungan yang menyenangkan. Hal ini dilakukan agar karyawannya betah bekerja disana. Seperti yang diketahui, startup merupakan perusahaan yang baru memulai untuk merintis, dimana yang kita tahu merintis sesuatu bukanlah hal yang mudah. Jadi diharapkan dengan menciptakan lingkungan yang menyenangkan, karyawan dapat merasa terhibur di sela-sela tekanan pekerjaan.

2. Mencoba hal baru

Buat kamu yang merasa bosan dengan hal yang monoton dan itu-itu saja. Startup dapat menjadi pilihan. Perusahaan startup terkenal dengan situasi pasang surutnya yang sering terjadi. Namanya juga baru mulai merintis, pasti ada aja deh hambatan di tengah-tengah pekerjaan. Namun hal ini ga selalu buruk loh, dikala pasang surut ini justru kamu dapat mengasah diri dan menantang diri kamu. Di situasi-situasi seperti inilah kamu akan dipaksa untuk keluar dari comfort zone; and getting out of your comfort zone is never a bad thing. Hal-hal tersebut pasti greget dan gak bikin gampang bosan deh. Maka dari itu, banyak sekali anak-anak muda yang lebih memilih bekerja di perusahaan startup ketimbang perusahaan corporate yang pekerjaannya itu-itu saja.

3. Memberimu Tanggung Jawab yang Lebih Besar

“With great power, comes great responsibility.” Meskipun perusahaan startup menyediakan fasilitas yang memanjakan karyawannya, bukan berarti kamu bisa main atau santai terus loh. Masing-masing karyawan startup biasanya memiliki peranan penting di dalam perusahaannya. Hal ini dikarenakan pegawainya yang biasanya tidak begitu banyak. Apalagi perusahaan startup biasanya tidak menerima sembarang orang, karena mereka membutuhkan orang-orang yang dipercaya mempunyai kapabilitas tinggi untuk membangun perusahaan. Jadi biasanya setelah masuk ke perusahaan startup artinya kamu mengemban tanggung jawab penting.

4. Lebih bebas

Gaya pekerja startup memang khas! Kalau kamu masuk ke sebuah perusahaan startup, kamu jangan heran kalau akan banyak permainan dan pajangan unik di meja-meja karyawannya. Ya! biasanya perusahaan startup memperbolehkan pegawainya untuk ‘refreshing’ ditengah pekerjaannya. Namun, ‘refreshing’ ini juga harus dipakai secara bijaksana dan bertanggung jawab. Ingat, kerjaan kelar dulu, baru boleh bebas.

5. Menambah Kreativitas

Bekerja di perusahaan startup berarti kamu bekerja dengan orang-orang yang berbeda pemikiran dan mempunyai jiwa membangun. Dengan berkumpul bersama orang-orang inovatif, maka kamupun akan kecipratan kreativitas mereka dalam menciptakan inovasi. Sehingga bisa jadi kamu bertambah kreativitasnya! Cocok buat kamu yang bercita-cita jadi entrepreneur. Ingat, work with the best, learn from the best!

6. Ikatan yang kuat sesama kolega

Selain karena terdiri dari anak-anak muda, biasanya hubungan antar karyawannya juga sangat erat. Mungkin karena sama-sama membangun dari nol, sehingga akan terasa momen susah bareng dan senang bareng. Jadi gak heran, kalau di perusahaan startup biasanya juga ada percikan-percikan cinlok. Hihi.

7. Bangga jika sukses

Tentunya sebagai salah satu yang ikut membangun perusahaan, kamu akan turut bangga kalau perusahaan startup tempat kamu bekerja sukses suatu hari. Karena kamu juga pasti akan kecipratan menjadi ‘salah satu pihak yang turut menyukseskan perusahaan’. Dan pasti akan ada kebanggaan dan kepuasan tersendiri deh. Apalagi biasanya perusahaan akan melakukan rekrutmen anak-anak baru jika sudah sukses. Dan kamu bisa mulai berharap bakal naik pangkat! Hehe.

Kira-kira begitulah suka ria bekerja di perusahaan startup. Untuk yang sedang mencari kerja dan berniat pindah kerja. Semoga perusahaan startup dapat menjadi pertimbangan kamu kedepannya yaaa...

Namun jangan lupa! Kinerja dan atittude yang baik juga sangat penting dalam bekerja. Jika kedua hal tersebut ada di diri kamu, niscaya kamu akan betah dan disayang bos deh! hehehe. Good luck!

Penulis: Boris Torentika

Editor: Sebastian Alex Dharmawangsa