Program



Mentorship

Mentoring dan bimbingan diberikan mulai dari konsep bisnis, model bisnis hingga implementasi bisnis. Peserta akan diarahkan untuk berkolaborasi membangun startup yang mampu memberikan solusi dan manfaat serta dampak besar bagi masyarakat. Setiap proses pembekalan dan konsultasi masalah akan ditangani dengan karakter masing-masing startup.

Workshop

Kelas kecil yang mengulas secara dalam setiap teknis startup seperti bisnis, pemasaran, desain, pemrograman dan lain-lain. Workshop juga melatih peserta untuk menyampaikan gagasan kepada audiensi secara jelas dan tepat.

Internship Innovative Academy

Magang bersertifikat di startup-startup Innovative Academy dalam kurun waktu kurang lebih 3 bulan. Program magang Innovative Academy dapat diikuti oleh mahasiswa dengan melalui seleksi terlebih dahulu sesuai dengan kemampuan dan minat posisi yang dituju.

News



Kunjungan Para Agen Perubahan Kementerian Luar Negeri ke Innovative Academy Hub

Pada hari Sabtu (07/07), Innovative Academy mendapatkan kunjungan dari 60 peserta Agen Perubahan (Agent of Change) Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia. Kunjungan benchmarking ini merupakan bentuk aksi yang dilakukan oleh Kementerian Luar Negeri atas Peraturan Presiden Republik Indonesia untuk Grand Design Reformasi Birokrasi 2010 - 2025. Kementerian Keuangan menganggap Innovative Academy sebagai salah satu pioneering programme yang dapat membawa perubahan positif di lingkungan akademik, dan melalui kunjungan ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi para agent of change untuk menjadi contoh dalam melakukan perombakan terhadap pola pikir (mind-set) dan budaya kerja (work culture) di Kemenlu agar menjadi lebih profesional, efisien, berintegritas, dan beriorientasi pada kepentingan tanah air.

Dalam kunjungannya ke Innovative Academy Hub, Coworking Space milik Universitas Gadjah Mada, 60 pejabat struktural dan fungsional Kementerian Luar Negeri ini diterima langsung oleh Dr. Hargo Utomo, M.B.A., M.Com. selaku Direktur Pengembangan Usaha dan Inkubasi Universitas Gadjah Mada, Dr. Eddy Junarsin, M.B.A. selaku Kasubdit Pengembangan Usaha, tim pelaksana Innovative Academy, perwakilan PT Gama Inovasi Berdikari, serta perwakilan startup binaan Innovative Academy.

Dalam sharing session-nya, Hargo Utomo mengungkapkan bahwa tiga kunci utama dalam pengelolaan perubahan dan inovasi di sebuah organisasi adalah pendekatan yang bersifat entrepreneurial, adanya kolaborasi multidisipliner yang aktif, serta kepemimpinan yang transformasional. “Universitas Gadjah Mada sendiri telah bertransformasi dari sebuah teaching university,  research university, sampai saat ini sebagai socio-entrepreneurship university. Hal ini terjadi atas berubahnya kebutuhan zaman yang disertai dengan spirit dan komitmen UGM yang tetap sama yaitu untuk menyampaikan nilai-nilai luhur kepada masyarakat dengan semangat gotong royong” ujarnya.

Head of Marketing Communications dari Innovative Academy, Sebastian Alex D, mengatakan kunjungan para staf Kemenlu diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi para peserta agent of change untuk melakukan perombakan terhadap perubahan pola pikir dan budaya kerja  di Kemenlu. “Kemenlu menganggap Innovative Academy sebagai salah satu program di lingkungan UGM yang dapat membawa perubahan positif di lingkungan akademik,” katanya.

Alex menambahkan dari kunjungan ini akan diikuti lebih banyak instansi-instansi pemerintahan lainnya yang juga menaruh perhatian pada perkembangan era revolusi industri 4.0. “Sebab, era revolusi industri ini berfokus pada kolaborasi dan kecepatan layanan" katanya.

Tujuh Peserta Innovative Academy Lolos Mengikuti NUS Enterprise Summer Program

Tujuh orang mahasiswa Universitas Gadjah Mada yang merupakan peserta Innovative Academy berhasil mendapatkan beasiswa dari Temasek Foundation International - NUS STEP Entrepreneurship Initiative 2018 Scholarship untuk mengikuti National University of Singapore Enterprise Summer Program on Entrepreneurship pada bulan Juli 2018. Program ini adalah program pembelajaran pengembangan sebuah startup dan ekosistemnya secara full-time selama dua minggu. Program ini menawarkan kesempatan unik bagi para peserta untuk belajar bagaimana salah satu negara paling kecil di dunia (i.e. Singapura) telah berkembang dari pelabuhan perdagangan menjadi negara tujuan perdagangan internasional dan investasi, serta menjadikannya sebagai salah satu pusat ekonomi paling kompetitif di dunia. Melalui program ini peserta juga akan mendapatkan pemahaman tentang bagaimana merumuskan kebijakan publik yang mendukung berkembangnya lingkungan bisnis, wawasan praktek bisnis dan pengembangan kewirausahaan di Singapura. Bersama dengan 40 - 60 mahasiswa dari berbagai negara, peserta akan mendapatkan proses pembelajaran dan memperoleh pengalaman yang sangat komprehensif melalui serangkaian kegiatan, yaitu sesi kuliah atau materi, diskusi dengan startup, ideation & pitching session, dan kunjungan ke institusi pemerintah dan bisnis.

Innovative Academy sebagai salah satu pionir program inkubasi startup tingkat kampus di Indonesia di bawah pengelolaan Direktorat Pengembangan Usaha dan Inkubasi UGM, dan merupakan salah satu program inkubasi yang menjadi acuan dari Gerakan Nasional 1000 Startup Digital akan mengirimkan 7 mahasiswanya yang tergabung dalam beberapa startup binaannya, yaitu Sebastian Alex D. (Head of Partnerships & Marketing Communications - Innovative Academy, Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik), Nogati Chairunnisa (Tim Startup Caltyfarm, Mahasiswa Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, & Keperawatan), Aa Nanda N. Megatus (Tim Startup Adsiconic, Mahasiswa Sekolah Vokasi), Sulaiman Gumilang (Tim Startup Pijar Psikologi, Mahasiswa Fakultas Ekonomika dan Bisnis), M. Wyndham H. Permana (Tim Startup Pasienia, Mahasiswa Fakultas Teknik), Dave Rinatza Zain (Tim Startup Kalikesia, Mahasiswa Fakultas Matematika & Ilmu Pengetahuan Alam), Dimas D. Andini Friasari (Tim Startup  Kalikesia, Mahasiswa Fakultas Teknik).

Menurut Dr. Hargo Utomo, Direktur Pengembangan Usaha dan Inkubasi UGM menyampaikan bahwa kegiatan ini diharapkan akan menambah pengetahuan dan wawasan bagaimana membangun startup bisnis untuk menjadi benchmark bagi pengembangan startup di Indonesia, bagaimana sebuah startup bisa memberikan problem solving bagi permasalahan yang terjadi di negara maju seperti Singapura, bagaimana dukungan pemerintah terhadap pengembangan startup bisnis, dan bagaimana mengembangkan interaksi startup dengan industri yang sudah mapan. Selain menyerap pengetahuan dan wawasan yang diperoleh selama kegiatan, Tim Innovative Academy juga diharapkan menjadi duta Indonesia dan Universitas Gadjah Mada yang dapat merepresentasikan sosok generasi milenial di Indonesia, yang memiliki semangat socio entrepreneurial dan memanfaatkan kemajuan teknologi untuk menyelesaikan permasalahan bangsa melalui solusi digital.

Alasan-alasan Surgawi Kenapa Kamu Harus Kerja di Perusahaan Startup

Bisa dikatakan dewasa ini, mencari pekerjaan bukanlah hal yang sulit lagi. Mendapatkan pekerjaan memang terbilang mudah. Yang sulit adalah mendapatkan pekerjaan yang cocok untuk kita. Nah, saat ini di Indonesia banyak sekali bermunculan perusahaan-perusahaan startup. Startup identik dengan lingkungan kerjanya yang santai, asik, dan menyenangkan. Mungkin bekerja di startup bisa menjadi pilihan yang patut dipertimbangkan oleh para pencari kerja.

Memang kenapa sih? Apa sih asiknya perusahaan startup? Yuk, langsung aja disimak!

1. Lingkungan Kerja yang Menyenangkan

Banyak perusahaan startup yang dibuat dengan lingkungan yang menyenangkan. Hal ini dilakukan agar karyawannya betah bekerja disana. Seperti yang diketahui, startup merupakan perusahaan yang baru memulai untuk merintis, dimana yang kita tahu merintis sesuatu bukanlah hal yang mudah. Jadi diharapkan dengan menciptakan lingkungan yang menyenangkan, karyawan dapat merasa terhibur di sela-sela tekanan pekerjaan.

2. Mencoba hal baru

Buat kamu yang merasa bosan dengan hal yang monoton dan itu-itu saja. Startup dapat menjadi pilihan. Perusahaan startup terkenal dengan situasi pasang surutnya yang sering terjadi. Namanya juga baru mulai merintis, pasti ada aja deh hambatan di tengah-tengah pekerjaan. Namun hal ini ga selalu buruk loh, dikala pasang surut ini justru kamu dapat mengasah diri dan menantang diri kamu. Di situasi-situasi seperti inilah kamu akan dipaksa untuk keluar dari comfort zone; and getting out of your comfort zone is never a bad thing. Hal-hal tersebut pasti greget dan gak bikin gampang bosan deh. Maka dari itu, banyak sekali anak-anak muda yang lebih memilih bekerja di perusahaan startup ketimbang perusahaan corporate yang pekerjaannya itu-itu saja.

3. Memberimu Tanggung Jawab yang Lebih Besar

“With great power, comes great responsibility.” Meskipun perusahaan startup menyediakan fasilitas yang memanjakan karyawannya, bukan berarti kamu bisa main atau santai terus loh. Masing-masing karyawan startup biasanya memiliki peranan penting di dalam perusahaannya. Hal ini dikarenakan pegawainya yang biasanya tidak begitu banyak. Apalagi perusahaan startup biasanya tidak menerima sembarang orang, karena mereka membutuhkan orang-orang yang dipercaya mempunyai kapabilitas tinggi untuk membangun perusahaan. Jadi biasanya setelah masuk ke perusahaan startup artinya kamu mengemban tanggung jawab penting.

4. Lebih bebas

Gaya pekerja startup memang khas! Kalau kamu masuk ke sebuah perusahaan startup, kamu jangan heran kalau akan banyak permainan dan pajangan unik di meja-meja karyawannya. Ya! biasanya perusahaan startup memperbolehkan pegawainya untuk ‘refreshing’ ditengah pekerjaannya. Namun, ‘refreshing’ ini juga harus dipakai secara bijaksana dan bertanggung jawab. Ingat, kerjaan kelar dulu, baru boleh bebas.

5. Menambah Kreativitas

Bekerja di perusahaan startup berarti kamu bekerja dengan orang-orang yang berbeda pemikiran dan mempunyai jiwa membangun. Dengan berkumpul bersama orang-orang inovatif, maka kamupun akan kecipratan kreativitas mereka dalam menciptakan inovasi. Sehingga bisa jadi kamu bertambah kreativitasnya! Cocok buat kamu yang bercita-cita jadi entrepreneur. Ingat, work with the best, learn from the best!

6. Ikatan yang kuat sesama kolega

Selain karena terdiri dari anak-anak muda, biasanya hubungan antar karyawannya juga sangat erat. Mungkin karena sama-sama membangun dari nol, sehingga akan terasa momen susah bareng dan senang bareng. Jadi gak heran, kalau di perusahaan startup biasanya juga ada percikan-percikan cinlok. Hihi.

7. Bangga jika sukses

Tentunya sebagai salah satu yang ikut membangun perusahaan, kamu akan turut bangga kalau perusahaan startup tempat kamu bekerja sukses suatu hari. Karena kamu juga pasti akan kecipratan menjadi ‘salah satu pihak yang turut menyukseskan perusahaan’. Dan pasti akan ada kebanggaan dan kepuasan tersendiri deh. Apalagi biasanya perusahaan akan melakukan rekrutmen anak-anak baru jika sudah sukses. Dan kamu bisa mulai berharap bakal naik pangkat! Hehe.

Kira-kira begitulah suka ria bekerja di perusahaan startup. Untuk yang sedang mencari kerja dan berniat pindah kerja. Semoga perusahaan startup dapat menjadi pertimbangan kamu kedepannya yaaa...

Namun jangan lupa! Kinerja dan atittude yang baik juga sangat penting dalam bekerja. Jika kedua hal tersebut ada di diri kamu, niscaya kamu akan betah dan disayang bos deh! hehehe. Good luck!

Penulis: Boris Torentika

Editor: Sebastian Alex Dharmawangsa

Yuk! Contek Budaya dan Pola Pikir Dibalik Kesuksesan Google

Dari seluruh 7 miliar manusia yang menduduki bumi ini; pasti semua mengetahui apa itu Google. Terlepas dari latar belakang suku, budaya, ekonomi, sosial, hingga pandangan politik yang dianut, penggunaan produk-produk Google telah menjadi suatu fenomena yang sangat populer. Kepopuleran Google sebagai mesin pencari di jagad internet divalidasi pada Juni 2006 saat Oxford Dictionary menjadikan ‘Google’ sebagai kata kerja baru. Well, I don’t know about you, but I wonder how does it feel like to work at Google? Liat aja foto-foto dari kantor pusat Google, Googleplex.

Sepertinya menyenangkan banget, ya? Taman kanak-kanak dekat rumah saya aja kalah menyenangkan. Saya tidak menyangka kantor yang semenyenangkan ini dapat menghasilkan produk-produk semacam Google Search, Google Chrome, Android, dan Google Translate; yang awalnya hanya dirintis dari sebuah garasi di rumah kecil. Sebagai mahasiswa tua yang menetap di Fakultas Ilmu Budaya, saya jadi penasaran, budaya kerja dan mindset seperti apa sih yang sebenarnya Google terapkan dan harus dimiliki (calon) karyawan-karyawannya untuk dapat membangun kerajaan startup nomor satu di dunia. Simak aja lebih lanjut artikel ini.

 

Objectives and Key Results

Setiap perusahaan pasti memiliki tujuan yang perlu dicapai oleh karyawan yang bekerja di perusahaan tersebut. Google menerapkan apa yang disebut dengan OKRs pada karyawannya yang berbeda dengan apa yang diterapkan oleh perusahaan lain. But what is OKRs, anyway?

OKRs merupakan singkatan dari Objectives and Key Results. Penerapan OKRs dapat membantu seorang karyawan untuk meningkatkan kinerjanya. Kok bisa, sih?

Pertama, karyawan-karyawan Google diharuskan untuk membuat sebuah tujuan yang spesifik dan jelas, serta memasukkan hasil yang jelas dari objektif tersebut. Dari objective ini Google juga menantang para karyawannya untuk keluar dari zona nyaman melalui penentuan tujuan yang ambisius; bahkan sukar untuk dicapai.

Terus bagaimana bila gagal? Hal tersebut bisa saja terjadi. Akan tetapi kegagalan bukanlah hal yang perlu dihindari, melainkan dapat menjadi sebuah batu loncatan dalam mengevaluasi kekurangan untuk kedepannya meningkatkan efisiensi dan efektivitas kerja. Sebaliknya, kesuksesan beruntun seorang karyawan atas pencapaian tujuan-tujuannya bisa dianggap sebagai ‘aib’ karena objective yang telah ditentukan itu dianggap kurang menantang bagi karyawan tersebut.

 

Creating MVP

Zaman sekarang kalau kita berjalan keliling tempat perbelanjaan, entah itu pasar tradisional atau swalayan besar, pasti ada saja produk yang terkadang kita pikir tidak ada faedahnya sama sekali untuk kamu dan/atau kemaslahatan bersama.

Mungkin saja benda-benda tersebut memang tidak ada manfaatnya untuk orang banyak atau memang tidak diperuntukkan untuk kamu. Gimanapun juga kesinambungan antara kebutuhan pasar dan kreativitas untuk menciptakan kebutuhan tersebut sangatlah diperlukan.

Google menggunakan apa yang disebut dengan MVP sebagai instrumen untuk memahami kebutuhan pasar. MVP sendiri merupakan singkatan dari Minimum Viable Product, jadi bukan penghargaan Most Valuable Player yang biasa ada di NBA yaaa

Ide-ide breakthrough yang super kreatif para karyawan Google biasanya diuji lewat sebuah prototype yang terbuat dari maket/mockup dan akan dikritisi oleh pengguna-pengguna random; yang nantinya dari feedback prototype ini dapat dihasilkan sebuah produk yang bisa dilepas ke early adopters sebagai pengisi pangsa ‘pasar kecil’ untuk perkembangan lebih lanjut dan persiapan untuk melepas produk di pasar yang lebih besar.

Hal tersebut sangat membantu Google dalam memahami ekspektasi konsumen, menganalisis pasar untuk strategi kedepannya, serta melatih karyawan untuk bertanggung jawab atas ide-ide kreatif yang telah dihasilkannya.

 

Immerse yourself in a high quality ecosystem

Google bergerak di bidang teknologi yang menuntut kreativitas tinggi; sehingga ide-ide yang sangat menarik dan out of the box sangat diidamkan di perusahaan tersebut.

Hal itu telah menjadikan Googleplex yang kita lihat di internet menjadi tempat yang sangat menyenangkan guna merangsang kreativitas karyawannya. Tapi tidak seperti itu juga, lingkungan kerja yang sedemikian asyik itu ternyata tidak serta merta membuat karyawan menjadi pemalas seperti yang ada di benak banyak orang. Justru, setiap karyawan di Google giat membangun suatu wadah teamworking yang unik dengan me-mentoring satu sama lain bila ada yang mengalami kesulitan.

Kenapa hal tersebut unik? Karena banyak dari para karyawan di perusahaan lain akan “membantu” satu sama lain seperti guru yang menggurui muridnya, atau ada juga yang merasa karena teman maka seluruh kinerja kurang maksimal bisa mudah di tolerir. ‘Teamworking’ seperti itu hanya akan membentuk seorang karyawan yang kurang paham akan kelebihan dan kekuarangan dalam kinerjanya; sedangkan mentoring akan membantu seorang karyawan untuk mengoptimalkan dan mengaktualisasi, tidak hanya kinerjanya, tapi juga dirinya sendiri.

 

You don’t have to be an expert in everything. But make sure you’re damn excellent in one.

Pasti kamu mengira bahwa perusahaan sebesar Google akan menuntut karyawan dengan pekerjaan-pekerjaan yang banyak, sulit, dan membutuhkan skill yang tinggi di semua bidang lalu semua harus dapat menyelesaikan pekerjaan itu dalam waktu singkat, padahal tidak sama sekali.

Setiap karyawan di Google berdedikasi terhadap passion-nya masing-masing sehingga setiap orang akan memiliki spesifikasi keahlian yang unik di setiap pekerjaan yang digelutinya. Ada sebutan terkenal “T-Shape Skill Set”, dimana kamu dipanggil untuk dapat mengetahui semua bidang sambil memiliki fokus untuk menjadi expert di salah satu bidang. Artinya, kamu cukup untuk excel di satu bidang aja.

Namun bagaimana bila ada pekerjaan yang memerlukan lebih dari satu skill dalam penyelesaiannya? Tidak perlu khawatir, budaya teamworking di Google yang telah dijelaskan sebelumnya memudahkan satu karyawan dan karyawan lainnya untuk bekerjasama atau bahkan saling belajar antara satu dengan yang lainnya.

***

Jadi begitulah budaya kerja dan cara berpikir yang diterapkan di Google. Sangat seru, asyik, dan menyenangkan gak sih? Namun kreativitas yang ekstra, kesabaran yang handal, serta kerja keras yang tiada tara juga masih sangat dibutuhkan untuk masuk dan bertahan di perusahaan sebesar Google. Do you have what it takes?

P.S.: Kamu tidak harus bekerja di Google untuk dapat menjalankan poin-poin di atas loh! Empat poin itu bisa banget diaplikasikan ke lingkungan kerjamu atau bahkan kehidupan personal kamu.

Google aja bisa menjadi sebesar hari ini karena hal-hal tersebut, kenapa kamu tidak?

 

Penulis: Muhammad Kautsar

Editor: Boris Torentika & Sebastian Alex Dharmawangsa

Timeline



Innovative Academy 5.0

Date: 13 Jan 2018 - 28 Apr 2018
Program : Innovative Academy
Batch : 5
Description:
inkubasi 1000s... Read More
Venue :

Officers Open Recruitment

Date: 27 Jan 2018 - 03 Feb 2018
Program : Innovative Academy - Officers Program
Batch : 5
Description:
Oprec... Read More
Venue :

Officers Program Interview

Date: 10 Feb 2018 - 11 Feb 2018
Program : Innovative Academy - Officers Program
Batch : 5
Description:
Interview... Read More
Venue :

Ignition - Third Wave Yogyakarta

Date: 10 Mar 2018 - 10 Mar 2018
Program : Gerakan Nasional 1000 Startup Digital
Batch : 3
Description:
Ignition... Read More
Venue :

Mentor



Dr. Hargo Utomo, M.B.A.

Direktorat Pengembangan Usaha dan Inkubasi Universitas Gadjah Mada

Yansen Kamto

KIBAR Indonesia

Benson Engelbert Kawengian

PT Urban Teknologi Digital (Urbanhire)

Rubby Emir

Saujana Indonesia

Affi Khresna

Pinasthika Creativestival

Startup